Aceh UtaraDaerahHukumNews

YARA Aceh Utara Temukan Kejanggalan di Bangunan Monumen dan Museum Samudera Pasai

LHOKSUKON, JARRAKPOSACEH — Tim Investigasi Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) Perwakilan Aceh Utara baru-baru ini menelusuri pembangunan Monumen dan Museum Islam Samudera Pasai di Gampong Beuringen, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara.

Dari hasil penelusuran, tim Investigasi menemukan beberapa kejanggalan pada dua bangunan yang akan dijadikan objek wisata budaya tersebut. Wajar saja disorot, sebab dua bangunan ini menghabiskan anggaran yang lumayan besar.

Bangunan Monumen Islam Samudera Pasai menghabiskan anggaran sekitar Rp 80 Miliar dan Museum Islam Samudera Pasai yang lokasinya bersebelahan juga menghabiskan anggaran sekitar Rp 7,5 Miliar.

“Kami menemukan beberapa fakta yang menjadi perhatian di bangunan Monumen Meseum Malikussaleh ini. Selain jalan, pagar bahkan inding Ornamen serta toilet sangat tidak layak dengan anggaran yang lumayan fantastis,” kata Kepala YARA Perwakilan Aceh Utara Iskandar PB melalui tim investigasi Haiqal Alfikri atau yang biasa disapa Haiqal Pasee, Senin (22/6/2020).

Haiqal Pasee menyebut, pada Monumen ini terdapat sejumlah ornamen yang terbuat dari bahan fiber dan kondisinya kini sudah lapuk. Bahkan sebagian juga sudah bolong seperti tidak terawat dengan baik, padahal bangunan ini diresmikan pada pertengahan 2019 lalu oleh Bupati Aceh Utara.

“Kemudian kondisi toilet dan pagar hampir copot dan terikat dengan kawat. Begitu juga jalan akses masuk rusak parah, berlubang dan sangat membahayakan pengguna jalan,” ujarnya lagi.

Menurutnya, jika dua bangunan ini dijadikan objek wisata budaya tentunya akan menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) bahkan ekonomi masyarakat juga bakal terbangun dengan baik.

“Namun bagaimana bisa terwujud jika kondisinya seperti itu. Jangankan ada perawatan bangunan, jalan akses masuk saja sangat amburadul. Kami meminta Pemkab memperhatikan dua objek ini karena itu merupakan aset daerah yang harus di jaga dan dilesetarikan dan dapat segera dipromosikan, sebab sejarah pasee bukan hanya diakui tingkat Asia, namun diakui oleh dunia,” ungkap Haiqal lagi. []

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button