Connect with us

Aceh Utara

Remaja Aceh Utara di Tahan Otoritas Thailand, Keluarga Korban Laporkan ke YARA

Published

on

ACEH UTARA, JARRAKPOSACEH — Seorang Nelayan Asal Aceh Utara terdampar di perairan Thailand Nelayan yang bernama M. Israkil Kasra (16), Nelayan tersebut merupakan warga asal Gampong Pulo Blang mangat Kecamatan Syamtalira Bayu Kabupaten Aceh Utara.

Oleh Karena itu Keluarga Nelayan Melaporkan Kasus tersebut Ke Kantor Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) Perwakilan Aceh Utara di jalan Medan – Banda Aceh Gampong Alue Drien Kecamatan Lhokseukon 9 Juli 2020.

Dalam laporan keluarga M. Israkil membawa sejumlah data Kekantor YARA Perwakilan Aceh Utara, Bedasarkan data yang di bawa keluarga korban dalam surat Keterangan yang di keluarkan pemerintah gampong blang pulo Nomor : 54 / 2024 / PBM / 2020.

Di surat tersebut membenarkan bahwa salah seorang warga Gampong Pulo Kecamatan Syamtalira Aron yang bernama M. Israkil Kasra telah di amankan oleh pihak kemanan Thailand pada 9 Maret 2020 Saat hendak mencari ikan Menggunakan Kapal.

Selain itu keluarga juga menyerahkan Sebuah Surat yang bertuliskan Bahasa Thailand dikeluarkan oleh pihak pemerintah negeri Gajah Putih tersebut yang berisikan Nama nama Para Warga yang menjadi Tahanan Pihak keamanan disana sejumlah 24 Orang termasuk M. Israkil.

Sementara Kadinsos Aceh membeberkan sejumlah fakta dan kronologis penangkapan 33 nelayan Aceh yang masih di tahan di Thailand. Kronologis tersebut disampaikan kepadanya oleh Direktur Jenderal Protokol dan Konsuler Dirktur Perlindungan WNI dan BHI Kementrian Luar Negeri RI, Judha Nugraha.

Pada tanggal 21 Januari 2020, Royal Thai Navy (RTN) melakukan penangkapan terhadap 2 kapal berbendera Indonesia, yaitu KM Perkasa dan KM Mahesa yang didalamnya terdapat 33 WNI. Dari 33 WNI tersebut, 30 WNI merupakan WNI dewasa, sedangkan 3 WNI lainnya merupakan anak di bawah umur.

Setelah penangkapan dilakukan, kedua kapal tersebut ditarik ke markas RTN di pangkalan Thap Lamu, provinsi Phang Ngah, sekitar 9 jam perjalanan dari KRI Songkhla.
Saat ini, kasus masih berada dalam proses penyilidikan polisi Phang Ngah dan belum dilimpahkan ke Jaksa. Masa sidik akan memakan waktu 48 hari dan dapat diperpanjang. Terkait dengan jadwal sidang, Otoritas Thailand akan menginfokan KRI Songkhla 1 minggu sebelum sidang dilakukan.

Sebagai informasi, tuduhan yang dijatuhkan ialah pelanggaran UU Perikanan karena kapal dilengkapi alar pencarian ikan berupa trawl, alat navigasi dan sejumlah besar awak kapal untuk ukuran kapal nelayan tradisional sehingga ditemukan bukti kuat adanya pencurian ikan di ZEE Thailand.

Sementara kepala YARA Perwakilan Aceh Utara Iskandar PB, yang didampingi Sekretaris YARA Perwakilan Aceh Utara Bakhtiar dan Sekretaris YARA Perwakilan Kota Lhokseumawe Fuadi Bachtiar, S.H. Menyampaikan Pihaknya telah menerima laporan dari keluarga M, Israkil Kasra Di Kantor YARA Perwakilan Aceh Utara, Dalam hal ini di laporkan oleh ibu kandungnya yang bernama Nurhayati.

Sebelumnya kami juga pernah mengikuti informasi yang berkaitan dengan ditahannya nelayan Asal Aceh Oleh otoritas Keamanan Thailand, Sehingga membuat sejumlah politisi asal Aceh Angkat Bicara seperti H. Uma, Fadhil Rahmi dan juga Kepala Dinas Sosial Aceh.

“Ini persoalan Antar negara, Tentunya kita Harus mengikuti mekanisme dan ketentuan berlaku di negara tersebut, kita pemerintah aceh memohon kemenlu RI Untuk dapatdi pulangkan semua Nelayan kita, dan hal ini juga sudah di surati oleh Bupati Aceh Timur” Ungkap Kadis sosial Aceh kepada Media” Ungkap Iskandar PB.
Sementara Angota DPD RI Asal Aceh H. Sudirman Juga telah Mendatangi Kantor Direktorat Perlindungan Warga Negara Indonesia (PWNI) Dan Bantuan Hukum Indonesia (BHI) Kementrian Luar negeri. Dalalam pertemuan itu Pihak H. Uma yang Berkordinasi terkait Sejumlah Nelayan Aceh yang ditahan di luar negeri meminta Agar Kemenlu segera memulangkan Nelayan Aceh Yang ditahan di luar negeri.

“Namun untuk Saat ini berarti belum ada kejelasan pasti, terhadap Status dan kondisi Nelayan Aceh yang ditahan, Kami dari Yayasan Advokasi Rakyat Aceh mendesak pihak terkait agar segera mengambil Langkah Konkrit terhadap persoalan ini, Baik melakukan pendampingan Hukum, maupun mencari solusi lain, Karena di lain sisi Kita juga tidak boleh mengintervensi Hukum di negara Orang, Namun Pemerintah Harus cepat bergerak dalam hal ini,” ungkap Iskandar. (Red)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Aceh Utara

Angin Kencang Terjang Payabakong, Enam Rumah dan Satu Mesjid Ikut Hancur

Published

on

By

Foto : Kondisi Salah satu bangunan yang terkena dampak angin kencang di Paya Bakong (jarrakposaceh.com/Agus)

Jarrakposaceh.com | Lhoksukon – Angin Kencang disertai hujan deras di Wilayah Gampong Meudru Kecamatan Paya Bakong Kabupaten Aceh Utara menghancurkan 6 rumah warga dan satu mesjid pada hari Selasa Tanggal 28 Juli 2020 sekira ± Pukul 16.30 WIB

Muhammad Amri Geuchik Paya Meudru menyampaikan kepada Jarrakposaceh.com bahwa ada enam rumah Warga yang mengalami rusak ringan dan satu rusak berat.

Selain rumah warga ada juga Tempat Ibadah yaitu Masjid Baitul Amal dan Kubahnya dibawa terbang bersama angin topan dengan jarak ± 200 meter

Bukan cuma itu, satu unit tempat pendidikan gampong tersebut juga ikut rusak berat yakni TK Bungong Meulu.

Tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu akan tetapi 26 Jiwa terpaksa tinggal dibawah tenda tempat pengungsian yang menggunakan dapur umum yang disediakan desa setempat.

“Tidak ada korban jiwa, namun warga harus mengungsi” ujarnya

Akibat kejadian itu, Listrik pun ikut padam disebabkan tumbangnya pohon kayu ke kabel listrik dan jalan induk yg menghubungkan akses tranportasi gampong Paya Meudru dengan Paya Bakong serta Matangkuli.

Berikut Data Korban Akibat Bencana angin topan :1.Husen banta (65) Pedagang, 2.Nurmala (37),IRT 3.Zakaria Ilyas (47)Tani, 4.Muhammad.R (50) Pedagang, 5.Razali (37) Pedagang, 6.Hadijah (50) IRT, 7.Masjid BaitulAmal, 8.TK Bungong Meulu. [agus]

Continue Reading

Aceh Utara

Puting Beliung Terjang Tanah Luas Aceh Utara

Published

on

By

Foto : Kondisi Salah satu rumah warga yang terkena dampak angin puting beliung di kecamatan tanah luas aceh utara pada senin siang (Foto : Agus)

Jarrakposaceh | Aceh Utara- Angin puting beliung menerjang Kecamatan Tanah Luas Kabupaten Aceh Utara Pukul 14:00 wib Hari Senin 20/7/2020

Tgk imum syik Desa Matang Ben salah satu yang ikut korban menyampaikan bahwa korban ada dua Gampong, Selain desanya ada juga desa udi Kecamatan tersebut

“Sampai saat ini belum hidup aliran listrik dirumah saya akibat runtuhan kayu dirumah yang belum dipindahkan” ujarnya

Dirinya juga menambahkan bahwa pihak pemerintah sampai saat ini belum ada upaya apapun menyangkut kejadian itu

“belum ada satu pun pihak kabupaten yang merespon, bahkan pihak SAR pun belum ada” Pungkasnya

Sementara itu, Gesyik Desa Matang Ben Baharudin menyampaikan dirinya telah membuat laporan ke pihak kecamatan menyangkut kejadian itu.

“Sudah kita laporkan, kemungkinan besok ada tindak lanjut dari pemerintah” pungkasnya

Terkait dengan bongkahan kayu dirumah warga dan jalan besok dirinya akan gotong royong dengan masyarakat untuk membersihkannya. [Agus]

Continue Reading

Aceh Utara

Kasi PMG : Geuchik Ridwan Telah Mencemarkan Nama Pemerintah Kecamatan Lhoksukon

Published

on

By

Foto : Kasi PMG Kantor Camat Lhoksukon Samsul Bahri (Foto : Ist)

Aceh Utara, JARRAKPOSACEH — Keuchik Gampong Meunasah Dayah, Kecamatan Lhoksukon Ridwan diminta jangan terlalu jauh menuding dan mencemarkan nama baik pihak Pemerintah Kecamatan Lhoksukon terkait program kegiatan Bimtek.

Hal itu disampaikan oleh Kasi PMG Kantor Camat Lhoksukon Samsul Bahri kepada media ini, pada Minggu (19/7/2020), saat dimintai tanggapannya terkait tudingan dari Keuchik Meunasah Dayah Ridwan, yang disampaikan kepada media.

Sebelumnya di salah satu media Ridwan mengatakan, kalau tidak diajukan Bimtek pihak kecamatan menolak pengajuan yang diajukan oleh Keuchik Meunasah Dayah.

“Tudingan Ridwan Keuchik Meunasah Dayah itu tidak benar, jangan karena  demi mencari kebenaran alasan sama masyarakatnya lalu dia mencemarkan nama baik pihak kecamatan Lhoksukon. Setiap APBG dan RAPBG Yang saya terima dari Geuchik Gampong saya evaluasi jumlah dana sesuai dengan Perbup Aceh Utara, dan sesuai dengan RPJMG dan RKPG, serta Berita Acara persetujuan APBG dan RKPG bersama Geuchik dan Tuha Peut Gampong,” kata Kasi PMG Samsul Bahri.

Dia menambahkan, setelah di evaluasi kebenarannya langsung dibuat SK dan pengantar Camat untuk dibawa berkas ke Kabupaten.

“Berkas saya tolak apabila APBG ada kesilapan atau kekurangan maupun kelebihan dana yang tidak sesuai dengan Pagu di Perbup, dan tidak adanya tanda tangan Tuha Peut Gampong (TPG), serta ada yang lupa di stempel oleh Keuchik dan Tuha Peut di APBG Gampong tersebut, kalau sudah lengkap dan sesuai tidak ada yang kami tolak, kecuali kalau ada yang belum lengkap baru saya panggil Keuchik untuk diperbaiki,” sebut Samsul.

Atas tudingan dari oknum Keuchik itu, Samsul selaku Kasi PMG di Kecamatan itu merasa keberatan dan menganggap sebagai upaya dari Keuchik Ridwan untuk mencemarkan nama baiknya. Karena menurut samsul pihaknya bekerja sesuai dengan Juknis yang ada, semua program desa yang diusulkanpun tentunya harus melalui Musrembangdes serta ada bukti berita acara yang harus ditanda tangani oleh Tuha Peut.

“Berkas itu juga kami periksa supaya ada persetujuan dan tanda tangan Tuha Peut Gampong, kalau sudah lengkap semua tentu kami tidak mungkin menolaknya, semua tentunya harus sesuai dengan ketentuan yang ada. Dan kami berharap atas tudingan dari Keuchik Ridwan yang telah menuding dan mencermarkan nama baik pihak kecamatan, agar dia mau meminta maaf atas tudingan yang dia sampaikan itu,” harap Kasi PMG. (red)

Continue Reading

Trending