News

Bahas Masalah IPAL; ASC Adakan Focus Group Discussion

Banda Aceh, Jarrakposaceh.com – Beberapa pekan ini, Banda Aceh disibukkan dengan kelanjutan pembangunan Instalasi Pengelohan Air Limbah (IPAL) di Gampong Jawa, Kuta Raja, Kota Banda Aceh.

Untuk menyerap berbagai persoalan tersebut, Atjeh Social Community (ASC) Kota Banda Aceh mengadakan Focus Group Discussion di 3 in 1 Coffee, Kamis (8/4/2021).

Acara yang dihadiri puluhan orang tersebut di isi 4 orang narasumber, diantaranya Sabri Badruddin, anggota Komisi III DPRK, Tgk. Damanhuri Basyir, Ketua MPU Kota Banda Aceh, Nazaruddin, S.TP., MT, PPK di balai PPW Aceh dan Tarmizi A. Hamid, budayawan Aceh.

Menurut pantauan media ini, diskusi yang bertajuk, Kilas Balik Project Instalasi Pengelohan Air Limbah di Kota Banda Aceh” itu cukup alot, hal ini terlihat dari antusias peserta yang ingin tahu perkembangannya.

Pada Focus Group Discussion tersebut beberapa peserta dari perwakilan elemen masyarakat sipil menolak keberadaan IPAL di Gampong Jawa dengan alasan, bahwa lokasi pembangunan itu ada kuburan, sehingga dianggap tidak patut untuk dilanjutkan.

Tidak hanya itu, sebagian masyarakat yang lain menerima pembangunan IPAL dengan catatan, harus adanya pemugaran kawasan kuburan sehingga pengerjaan IPAL tidak melewati lahan kuburan yang ada.

Menurut Direktur Atjeh Social Community, Fakhruddin pada media ini menjelaskan, kawasan pembangunan IPAL itu tentunya sudah melewati semua perencanaan pembangunan, termasuk tata ruang. Namun demikian, pembangunan yang dianggap sebagian masyarakat Kota Banda Aceh itu tidak patut karena ada kuburan, tentunya hal ini bisa dimusyawarahkan dengan bijak dan secara kekeluargaan, sehingga pembangunan yang ada di Kota Banda Aceh tidak terhambat.

“Alangkah bijaknya ketika persoalan IPAL ini bisa dimusyawarahkan dengan baik dan penuh kekeluargaan, sehingga apa yang kita cita-citakan terhadap pembangunan kota dapat tercapai dengan baik dan berkesinambungan”, jelasnya.

Fakhruddin melanjutkan, sebagai warga kota Banda Aceh tentunya persoalan ini tidak berlarut-larut, sehingga pembangunan juga menjadi terhambat.

“Kita memahami kondisi saat ini, baik yang pro maupun kontra terhadap pembangunan IPAL itu, sehingga kami menyarankan untuk dapat duduk semeja, sehingga kasus ini dapat terselesaikan dengan baik”, tutupnya. (SG)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button